Asya’ari, MA (Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)
Oleh: Asya’ari, MA Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. telah menjadi bagian penting dari tradisi keislaman di berbagai belahan dunia. Setiap tahun, umat Islam memperingati kelahiran Rasulullah SAW. melalui berbagai kegiatan, mulai dari pengajian, pembacaan shalawat, ceramah keagamaan, hingga berbagai bentuk perayaan di tengah masyarakat. Namun, di tengah semaraknya peringatan tersebut, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah Maulid Nabi hanya berhenti sebagai sebuah tradisi tahunan, atau mampu menjadi momentum untuk membangkitkan kesadaran umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman?
Pertanyaan ini penting karena kecintaan kepada Rasulullah SAW. tidak cukup hanya diungkapkan melalui kemeriahan acara. Kecintaan itu seharusnya melahirkan kesadaran untuk meneladani perjuangan, akhlak, kepemimpinan, dan visi beliau dalam membangun peradaban.
Tujuan Awal Peringatan Maulid Nabi
Secara historis, peringatan Maulid Nabi dalam bentuk perayaan tertentu berkembang setelah masa Rasulullah SAW dan generasi sahabat. Karena itu, peringatan Maulid bukanlah ibadah yang diperintahkan secara khusus dalam Al-Qur’an maupun dicontohkan sebagai perayaan oleh Rasulullah SAW. sendiri. Di kalangan ulama pun terdapat perbedaan pandangan mengenai hukum dan bentuk peringatannya.
Terlepas dari perbedaan tersebut, dalam praktiknya Maulid Nabi di berbagai masyarakat Muslim berkembang sebagai sarana untuk mengingat kembali sosok Rasulullah SAW., menumbuhkan kecintaan kepada beliau, mempelajari sirah dan akhlaknya, serta menghidupkan shalawat dan nilai-nilai perjuangannya.
Dengan demikian, substansi yang hendak dicapai dari sebuah majelis Maulid semestinya tidak berhenti pada peringatan kelahiran secara simbolik. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah SAW. dalam kehidupan umat.
Rasulullah SAW. datang bukan sekadar membawa perubahan ritual keagamaan, tetapi juga membangun manusia dan masyarakat. Beliau membebaskan manusia dari kejahiliyahan, membangun persaudaraan, menegakkan keadilan, mengembangkan ilmu, memperbaiki akhlak, serta membangun masyarakat yang memiliki visi dan peradaban.
Ketika Maulid Hanya Menjadi Seremonial dan Makan-Makan
Fenomena yang patut menjadi bahan renungan adalah ketika Maulid Nabi semakin meriah, tetapi semakin tipis dalam penghayatan. Panggung didirikan, pengeras suara dipasang, spanduk dibentangkan, penceramah diundang, shalawat dikumandangkan, kemudian jamaah menikmati hidangan bersama. Setelah acara selesai, semuanya kembali seperti semula.
Tidak ada yang salah dengan berkumpul, bershalawat, mendengarkan ceramah, maupun menikmati hidangan bersama. Bahkan, makan bersama dapat menjadi sarana mempererat ukhuwah. Persoalannya muncul ketika seremonial menjadi tujuan akhir, sementara pesan dan keteladanan Rasulullah SAW. justru terlupakan.
Ironis jika setelah acara Maulid kita kembali pada persoalan yang sama: korupsi, ketidakjujuran, konflik antarsesama Muslim, lemahnya penguasaan ilmu pengetahuan, kemiskinan, ketidakpedulian sosial, serta keterbelakangan dalam berbagai bidang.
Ukuran keberhasilan Maulid bukan semata-mata seberapa ramai jamaah yang hadir atau seberapa banyak makanan yang disediakan, melainkan seberapa jauh peringatan itu mampu melahirkan perubahan dalam diri dan masyarakat.
Esensi Maulid: Menyongsong Kebangkitan Umat Islam
Rasulullah SAW. memberikan teladan bahwa perubahan besar dimulai dari pembangunan manusia. Beliau membentuk generasi yang memiliki keimanan kuat, akhlak mulia, keberanian, kecintaan terhadap ilmu, kepedulian sosial, dan kemampuan membaca realitas. Karena itu, kebangkitan umat Islam pada masa modern tidak cukup hanya dengan memperbanyak simbol-simbol keislaman. Kebangkitan membutuhkan iman yang kokoh sekaligus ilmu, karakter, kompetensi, persatuan, dan kerja nyata.
Maulid dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat tersebut, hal ini bisa terlihat diantaranya:
Pertama, Maulid harus menjadi momentum kebangkitan ilmu. Umat Islam perlu mendorong generasi mudanya untuk mencintai ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, dan menghasilkan inovasi. Meneladani Rasulullah SAW. berarti membangun masyarakat yang serius dalam belajar dan mengembangkan potensi manusia.
Kedua, Maulid harus melahirkan kebangkitan akhlak. Kemajuan teknologi tanpa akhlak dapat menghasilkan kerusakan. Karena itu, kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, disiplin, dan tanggung jawab harus menjadi karakter umat. Rasulullah SAW. adalah teladan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh kualitas moral manusianya.
Ketiga, Maulid harus memperkuat ukhuwah. Umat Islam tidak akan mampu menghadapi tantangan besar jika terus terpecah oleh persoalan-persoalan kecil. Perbedaan mazhab, organisasi, pilihan politik, maupun latar belakang sosial semestinya tidak menjadi alasan untuk saling merendahkan dan bermusuhan. Persaudaraan yang dibangun Rasulullah SAW. menunjukkan bahwa perbedaan dapat dikelola dalam sebuah ikatan kebersamaan yang lebih besar.
Keempat, Maulid harus mendorong kepedulian sosial. Rasulullah SAW. tidak membangun umat yang hanya sibuk dengan kesalehan individual. Beliau juga membangun masyarakat yang peduli kepada kaum lemah, anak yatim, fakir miskin, tetangga, dan kelompok yang membutuhkan. Karena itu, semangat Maulid harus diwujudkan dalam gerakan sosial yang nyata.
Dari Perayaan Menuju Perubahan
Pada akhirnya, persoalan utama bukanlah apakah Maulid perlu dirayakan dengan meriah atau sederhana. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah Maulid itu selesai.
Rasulullah SAW. tidak hadir dalam sejarah hanya untuk dikenang. Beliau hadir untuk diteladani. Sirah beliau bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sumber inspirasi untuk menjawab persoalan masa kini dan membangun masa depan.
Karena itu, sudah saatnya kita menggeser paradigma “Maulid sebagai perayaan” menjadi “Maulid sebagai gerakan.” Gerakan untuk memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan ilmu dan teknologi, memperkuat ekonomi umat, membangun kepedulian sosial, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan. Itulah esensi Maulid yang seharusnya kita hidupkan: mengenang Rasulullah SAW. bukan sekadar dengan lisan, tetapi menghadirkan nilai-nilai perjuangannya dalam kehidupan dan menjadikannya energi untuk menyongsong kebangkitan umat Islam di zaman modern. Wallahu a’lam bishawab