Tim peneliti melakukan wawancara dengan T. Abulis Samarkhan
Seulimeum 21 Juni 2026
Pagi ini cukup cerah, ketika tim peneliti dari STAIN Teungku Dirundeng bergerak dari Warung Kopi Sareng, Lambaro Aceh Besar. Beberapa menit sebelumnya, tim mengisi sedikit energi dengan nasi gurih kari bebek dan sepancung kopi agak pahit. Warung kopi memang sudah menjadi warna dominan pagi di Kota Banda Aceh dan sekitarnya; konon semakin menjamur sejak kedatangan para relawan NGO di masa rehabilitasi pasca-Tsunami. Kota seribu warung kopi, begitu orang menyebutnya.
Dulu, sebelum turun ke lapangan, para relawan selalu makan nasi gurih dan minum kopi pagi.” Begitulah cerita yang beredar, dan rupanya, tradisi itu masih terasa hingga kini.
Pagi itu, dengan menumpang Suzuki S-Presso putih yang irit bahan bakar, kami bergerak menuju Dayah Tanoh Abee, Seulimum. Di sana, kami disambut langsung oleh T. Abulis Samarkhan, cucu dari Abu Muhammad Dahlan Tanoh Abee, seorang pemuda berusia sekitar tiga puluhan, berpenampilan sederhana dengan peci hitam dan sarung. Tak lama berselang, beliau mulai bertutur panjang mengenai sejarah perpustakaan kuno yang didirikan pada abad ke-17 oleh ulama besar Syeikh Fairus Al-Baghdady.
Tim yang hadir, yakni Ramli M.Ag, Hendra SH M.Ag, Arizul Suwar M.Pd., dan Jovial Pally Taran M.Ag, didampingi oleh Dr. Muhajir Al Fairusy, seorang keturunan Syeikh Fairus Al-Baghdady yang juga masih bersaudara dengan T. Abulis Samarkhan. Keduanya sama-sama merupakan cucu dari Abu Muhammad Dahlan Tanoh Abee (w. 2004), sosok yang dikenal sebagai pewaris sekaligus penginventarisir warisan manuskrip kuno di lingkungan dayah tersebut.
Sejak masa inisiasi beliau hingga hari ini, Perpustakaan Kuno Tanoh Abee telah beberapa kali dikunjungi oleh pustakawan dan peneliti, baik dari kalangan pemerintah maupun perseorangan, untuk membantu konservasi dan penyusunan katalog. Di antara mereka, terdapat salah satu filolog nasional terkemuka, Prof. Dr. Oman Fathurrahman, MA, yang juga pernah singgah dan memberi perhatian pada khazanah ini.
Menurut T. Abulis, masih banyak manuskrip yang tersimpan dan belum tersentuh karena berbagai pertimbangan. Polemik Wujudiyah di Aceh dan tekanan perang melawan Belanda menjadi dua peristiwa yang secara nyata mempengaruhi bagaimana manuskrip-manuskrip itu disosialisasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Abu Muhammad Dahlan sendiri rupanya mempunyai pertimbangan tersendiri, sehingga tidak semua manuskrip kuno pada akhirnya mendapat publikasi.
Tim disambut di sebuah balai kecil, lalu diizinkan berziarah ke makam Abu Muhammad Dahlan dan Teungku M. Ali. Setelah itu, tim memasuki sebuah ruangan kecil yang menyimpan sekitar seratusan manuskrip dalam berbagai kondisi: sebagian telah dikatalog, sebagian baru selesai dipreservasi, dan beberapa lainnya masih terbungkus di dalam amplop.
Di ruang tersebut juga terdapat satu makam yang tertutup papan milik Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee (w.1893) dan dua makam lainnya.
Kami sebenarnya berharap dapat menemukan manuskrip Syekh Hamzah Fansuri yang kabarnya memang tersimpan di perpustakaan ini. Namun dengan keterbatasan waktu dan akses, keinginan itu kali ini belum berhasil kami wujudkan.
Kekayaan manuskrip Dayah Tanoh Abee tidak lepas dari tradisi penyalinan yang diwariskan secara turun-temurun. Sayangnya, upaya literasi tingkat tinggi semacam itu kini seolah kehilangan tempat di tengah generasi muda.
Kami diberi kesempatan melihat langsung beberapa manuskrip, sebagian berisi kajian fikih dan sebagian lagi membahas pengobatan tradisional. Salah satu kitab yang diperlihatkan berukuran kecil dan kondisinya cukup ringkih, sehingga kami menahan diri untuk meminta agar dibukakan. Kami kemudian beralih ke satu manuskrip lain yang menggunakan kertas Eropa, masih cukup keras meski penjilidannya sudah terlepas. Abulis membuka beberapa halamannya, dan kami memahami isi serta pesannya.
Di Aceh, diskursus Wujudiyah memang cenderung dihindari, baik oleh ulama, akademisi, maupun kalangan arif. Kalaupun dibahas, ia disampaikan secara terbatas dan hanya kepada orang-orang tertentu. Dalam situasi seperti itu, kami memahami sepenuhnya mengapa banyak hal dibiarkan tersimpan. Yang terpenting saat ini adalah memastikan manuskrip-manuskrip itu terkatalog, terpelihara, dan dikenal lebih luas, sebelum kandungan isinya mulai digali lebih jauh.
Aceh punya situasi politik yang tidak biasa, sehingga membuka gagasan lama dapat menimbulkan gejolak dan masalah baru, khususnya ketika masyarakat belum siap.” Begitu kira-kira yang kami tangkap dari tutur T. Abulis, yang sepanjang dialog berbicara dalam bahasa Aceh.
Penulis: Ramli M.Ag (Ramli Cibro)
Dosen STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh; Direktur Fanshur Institute

Tim peneliti bersama T. Abulis salah seorang keturunan pendiri Dayah Perpustakaan Kuno Tanoh Abe