Rektor ISBI Prof Wildan bersama para narasumber
Jantho, 30 Oktober 2026
Direktur Fanshur Institute, Ramli Cibro menjadi pemateri kegiatan Seminar Hamzah Fansuri di Institut Seni Budaya Aceh Kota Jantho Aceh Besar. Acara yang dihelat di Aula Gedung Utama ISBI Aceh tersebut mengambil tema Hamzah Fansuri, Riwayat, Sejarah Tasawuf dan Keabadian Sastra Melayu Klasik. Selain Ramli, juga hadir pakar Filologi Aceh, Hermansyah M.Th.,MA,.Hum, yang juga Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar Raniry Banda Aceh.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr. Wildan, M.Pd. Dalam sambutannya, Prof. Wildan menyampaikan bahwa generasi muda Aceh perlu memiliki kebanggaan terhadap ulama-ulama besar asal Aceh yang dikenal luas hingga tingkat internasional, seperti Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Abdurrauf Singkel, dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk memperkuat posisi seni dan budaya Islami khas Aceh sebagai bagian penting dari pengembangan keilmuan dan kesenian di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.
Sebagai narasumber pertama, Hermansyah menjelaskan bahwa manuskrip yang memuat karya-karya Syekh Hamzah Fansuri sebenarnya cukup banyak tersimpan di Aceh. Beberapa di antaranya terdapat di Museum Ali Hasjimy, Museum Aceh, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. Menurutnya, syair-syair Hamzah Fansuri kerap ditemukan terselip dalam bundel-bundel manuskrip sehingga diperlukan ketelitian dan kesungguhan untuk menelusuri serta mengidentifikasinya.
Ia juga menyoroti salah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan naskah kuno di Aceh, yakni terbatasnya sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang pernaskahan. Hampir seluruh kegiatan pendataan dan pemeliharaan manuskrip masih melibatkan tenaga ahli dari luar Aceh. Kondisi ini menunjukkan bahwa kajian pernaskahan belum cukup diminati oleh masyarakat lokal, khususnya generasi muda.
Sementara itu, Ramli selaku narasumber kedua memaparkan kekayaan khazanah tasawuf Syekh Hamzah Fansuri yang perlu mendapat perhatian dan dikaji secara lebih serius. Menurutnya, terdapat sejumlah aspek penting dalam pemikiran dan warisan intelektual Hamzah Fansuri yang layak dikembangkan, meliputi historiografi, falsafah wahdatul wujud, mistisisme dan tarekat amaliah, etika emansipatif, serta estetika bahasa dan sastra. Berbagai aspek tersebut menunjukkan keluasan pemikiran Hamzah Fansuri sekaligus menegaskan pentingnya warisan intelektualnya bagi perkembangan keilmuan Islam dan kebudayaan Melayu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Wakil Rektor ISBI Aceh, Ratri Candra Sari; Ketua LPPM, Saniman Andi Kafri; Ketua LPMBP, Beni Andiko; serta sejumlah dosen dan mahasiswa ISBI Aceh. Dari STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, hadir pula Hendra, S.H., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam, dan Jovial Pally Taran, dosen sekaligus peneliti arkeologi dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya Aceh Barat.
Ramli hadir dalam kegiatan tersebut dalam kapasitasnya sebagai Ketua Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam dan juga dosen Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Ia juga dikenal sebagai salah satu peneliti yang secara khusus menaruh perhatian pada kajian pemikiran dan warisan intelektual Syekh Hamzah Fansuri di Aceh.