Banda Aceh, 12 Mei 2026
Oleh: Dahri
Ketahanan pangan menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan masyarakat, termasuk bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan akses terhadap sumber pangan sehat, mandiri, dan berkelanjutan.
Melalui program Community Development berbasis transfer teknologi, Sekolah Luar Biasa Negeri Banda Aceh bersama Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala menghadirkan inovasi Budikdamber sebagai solusi sederhana namun berdampak besar bagi kemandirian pangan peserta didik penyandang disabilitas.
Budikdamber merupakan singkatan dari Budidaya Ikan Dalam Ember, yaitu metode budidaya terpadu yang memanfaatkan satu wadah ember untuk memelihara ikan sekaligus menanam sayuran di bagian atasnya.
Ikan seperti lele dipelihara di dalam ember, sementara tanaman sayuran seperti kangkung tumbuh menggunakan nutrisi alami dari air budidaya. Selain lele, program ini juga menghadirkan ikan nila merah yang warnanya lebih cerah dan menarik, sehingga membuat anak-anak lebih mudah mengenali jenis ikan, lebih antusias saat memberi pakan, dan lebih semangat memantau pertumbuhan ikan setiap harinya.
Konsep Budikdamber tidak hanya hemat tempat dan biaya, tetapi juga menjadi solusi tepat untuk keterbatasan lahan yang dimiliki sekolah. Sistemnya yang sederhana dan mudah dirawat memungkinkan seluruh siswa terlibat aktif tanpa memerlukan peralatan rumit, sekaligus menjadikannya media pembelajaran vokasional yang produktif dan berkelanjutan.
Program ini dipimpin oleh Dr. Ir. Dedi Fazriansyah Putra, S.T.Pi., M.Sc., IPM selaku Ketua Pelaksana, dengan dukungan langsung dari dosen dan mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala. Kehadiran mahasiswa menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan hangat, mendorong para siswa untuk lebih percaya diri dalam mengikuti setiap tahapan budidaya.
Peran aktif guru juga menjadi kunci keberhasilan program ini. Dahri, M.Pd, guru agama yang sekaligus bertindak sebagai teknisi dan pendamping utama, telah mengembangkan Budikdamber di sekolah tersebut sejak tahun 2023. Dengan kesabaran dan dedikasinya, beliau membantu siswa memahami proses pemeliharaan ikan, perawatan tanaman, hingga pengelolaan sistem secara berkelanjutan menggunakan pendekatan praktik langsung yang mudah dipahami siswa dengan berbagai hambatan belajar.
Salah satu keunggulan Budikdamber adalah kemudahannya untuk diterapkan oleh seluruh siswa tanpa memandang keterbatasan yang dimiliki. Anak-anak dapat terlibat langsung mulai dari memberi pakan ikan, memantau pertumbuhan tanaman, hingga melakukan panen — aktivitas yang sekaligus melatih keterampilan motorik, kemandirian, rasa tanggung jawab, dan kemampuan berinteraksi sosial.

Manfaat Budikdamber bagi murid disabilitas pun sangat beragam. Aktivitas rutin seperti memeriksa kondisi air dan merawat tanaman membangun disiplin serta kepedulian terhadap makhluk hidup. Kegiatan praktis ini juga melatih koordinasi motorik, konsentrasi, dan kemampuan berhitung sederhana — hal yang jauh lebih mudah diserap dibandingkan pembelajaran teori di kelas.
Dari sisi sosial dan emosional, proses perawatan hingga panen mendorong siswa untuk bekerja sama, berbagi tugas, dan saling mendukung. Ketika melihat ikan tumbuh sehat dan tanaman berhasil dipanen, murid merasakan kebanggaan nyata bahwa mereka mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, sekolah, maupun keluarga.
Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri Banda Aceh, Nurlina, S.Pd, menyambut program ini dengan antusias. “Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut untuk mendukung keterampilan vokasional anak-anak kami,” tuturnya. Dukungan tersebut menjadi semangat tambahan bagi seluruh tim pelaksana untuk terus mengembangkan program yang bermanfaat ini.
Hasil panen ikan dan sayuran tidak hanya menjadi sumber pangan bergizi, tetapi juga bukti nyata potensi siswa. Lebih dari itu, Budikdamber menanamkan nilai kepedulian lingkungan, semangat gotong royong, dan keterampilan hidup yang berguna di masa depan. Kolaborasi antara SLB Negeri Banda Aceh, Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, mahasiswa, dan para guru menunjukkan bahwa pemberdayaan penyandang disabilitas dapat dilakukan melalui pendekatan inovatif dan inklusif. Budikdamber bukan sekadar metode budidaya — ia adalah simbol harapan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan mandiri.