M. Rezki Andhika, S.Pd., M.Pd.I (Ketua Prodi PGMI STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)
M. Rezki Andhika, S.Pd., M.Pd.I (Ketua Prodi PGMI STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh)
Setiap kali November tiba, udara seperti membawa gema perjuangan. Lagu Bagimu Negeri berkumandang dari pengeras suara sekolah, bendera merah putih berkibar khidmat, dan cerita tentang pertempuran 10 November 1945 kembali dihidupkan. Kita diingatkan pada keberanian Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo yang memilih “Merdeka atau Mati” sebagai jalan kehormatan bangsa.
Namun, di balik suasana heroik itu, berdirilah sosok yang jarang disorot, para guru dan dosen, insan pendidik yang menjadi penjaga ingatan kolektif bangsa. Mereka adalah penutur kisah para pejuang dan penanam nilai-nilai kebangsaan di hati generasi muda. Tetapi di tengah peringatan yang penuh simbol dan seremoni itu, muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: apakah kita hanya pandai mengenang pahlawan, tanpa menciptakan ruang bagi lahirnya pahlawan baru di masa kini?
Pahlawan 1945 berjuang dengan bambu runcing dan semangat tak kenal takut. Pendidik hari ini berjuang dalam senyap, melawan kebodohan, apatisme, dan degradasi moral yang makin kompleks. Tidak ada lentusan senapan maupun dentuman meriam, tetapi ada kesunyian ruang kelas tempat seorang guru mencoba menghidupkan semangat belajar. Tidak ada api yang berkobar maupun darah yang tertumpah, tetapi ada keringat dan air mata yang jatuh dalam diam demi satu nilai kejujuran dan karakter tangguh. Perjuangan itu tak kalah berat, hanya saja jarang disorot kamera sejarah.
Ironinya, gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia bentuk penghormatan moral, di sisi lain, ia dapat menjadi pembenaran untuk ketidakadilan yang sistemik. Banyak guru dan dosen bekerja melampaui batas waktu dan peran, namun masih bergulat dengan kesejahteraan, beban administrasi, dan ekspektasi publik yang semakin tinggi. Dunia menuntut hasil pendidikan yang instan dan terukur dengan angka, sementara nilai-nilai kemanusiaan dan karakter kerap diukur dari hasil ujian semata.
Di sinilah paradoks itu mengemuka, di mana guru dituntut menjadi pahlawan bagi peserta didik, namun sering kali tidak diperjuangkan dalam sistem yang mereka layani. Mereka diharapkan menanamkan integritas, padahal lingkungan di sekitar mereka sering kali memberi contoh sebaliknya. Sudah saatnya makna kepahlawanan perlu kita tafsirkan ulang.
Pahlawan sejati bukan semata mereka yang berani mati, tetapi mereka yang berani hidup dengan integritas. Bukan yang memegang senjata, tetapi yang teguh memegang prinsip di tengah tekanan moral dan birokrasi. Di era digital dan krisis karakter ini, keberanian untuk jujur, disiplin, dan konsisten pada nilai merupakan bentuk kepahlawanan baru yang tidak kalah penting.
Namun, data terbaru dari Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK 2024 menyodorkan kenyataan getir. Dunia pendidikan kini menjadi medan perang baru dengan musuh yang jauh lebih licin: budaya ketidakjujuran dan korupsi. Sebanyak 98% mahasiswa menganggap mencontek hal yang lumrah. Sebagian besar dosen dan tenaga pendidik kerap tidak disiplin waktu. Bahkan, di sejumlah institusi, praktik gratifikasi dan pungutan liar masih dianggap hal biasa.
Fakta ini mengungkap bahwa perjuangan terbesar pendidikan Indonesia kini bukan lagi sekadar mengejar mutu akademik, tetapi membangun ekosistem moral yang bersih dan berintegritas.
Dalam konteks itu, guru dan dosen sejatinya sedang berperang di garis depan. Mereka berusaha menanamkan nilai kejujuran di tengah budaya pragmatisme, menegakkan disiplin di tengah sistem yang longgar, dan menjaga idealisme di tengah godaan kompromi moral. Mereka melawan godaan untuk “ikut arus,” dan memilih berdiri di jalur yang mungkin sunyi tetapi bermartabat.
Hari Pahlawan semestinya tidak berhenti pada upacara, pidato, atau naskah drama kolosal. Ia harus menjadi ruang refleksi bagi insan pendidikan untuk bertanya: sudahkah kita menjadi teladan dari nilai yang kita ajarkan? Apakah kita sudah jujur dalam menilai, adil dalam membimbing, dan konsisten menolak praktik yang menodai marwah profesi?
Kepahlawanan di dunia pendidikan tidak lagi tentang siapa yang paling hebat mengajar, tetapi siapa yang paling berani memegang nilai, meski dunia di sekitarnya tak lagi peduli. Seorang guru yang menolak suap kecil, dosen yang membatalkan skripsi plagiat, kepala sekolah yang transparan mengelola dana, mereka semua sedang menghidupkan semangat 10 November dalam wujud paling aktual.
Pahlawan masa kini mungkin tidak dikenang dalam buku sejarah, tidak dipatungkan di taman kota, dan tidak mendapat penghormatan kenegaraan. Namun, setiap kali seorang anak tumbuh menjadi manusia yang jujur, cerdas, dan berakhlak, di situlah jejak kepahlawanan seorang guru sesungguhnya terukir.
Hari Pahlawan bukan hanya tentang mereka yang gugur di masa lalu, tetapi juga tentang mereka yang terus berjuang hari ini. Sebab pertempuran terbesar bangsa ini tidak lagi di medan perang, melainkan di ruang kelas. Dan kemenangan sejati bukan tentang menaklukkan musuh, melainkan menaklukkan diri sendiri.