Di tengah keterbatasan hidup sebagai anak yatim di Desa Pante Kuyun, Emoliza membiayai sendiri kuliahnya dari honor kecil dan kios ponsel sederhana hingga lulus cumlaude di STAI-PTIQ Aceh Jaya.
Hari itu, aula wisuda dipenuhi tepuk tangan dan senyum bahagia. Satu per satu nama dipanggil untuk naik ke panggung. Hingga akhirnya, terdengar nama Emoliza. Di sudut ruangan, sang ibunda menunduk pelan. Air matanya jatuh tanpa suara. Dari atas panggung, beberapa anggota senat menangkap pemandangan itu. Seorang ibu yang menyeka wajahnya, menahan haru dan bangga yang tak terbendung.
Emoliza sendiri terdiam sejenak. Ia tak pernah membayangkan bahwa namanya akan disebut sebagai salah satu lulusan terbaik STAI-PTIQ. Dengan IPK 3,82 dan predikat cumlaude, ia melangkah maju dengan mengandeng tangan ibunda untuk menerima penghargaan akademik.
Meski predikat itu sudah tertulis di buku yudisium, tak pernah ada pemberitahuan sebelumnya. Bahkan saat prosesi yudisium, panitia hanya menyebutkan jumlah lulusan berprestasi tanpa nama. Rupanya, kampus sengaja menyimpan kejutan itu—sebuah hadiah kecil untuk perjuangan besar yang selama ini tersembunyi.
Emoliza terlahir sebagai anak yatim. Ia tidak pernah mengenal ayahnya. Tak pernah merasakan pelukan, tak pernah mendengar panggilan “Ayah” dari bibirnya sendiri. Ia lahir di desa Pante Kuyun 26 Agustus 1999.
Tentang ayahnya, ia hanya mendengar cerita dari ibunda dan warga gampong. Menurut mereka, ayah Emoliza meninggal saat Aceh berada dalam masa konflik. Ia di bawa ke lapangan desa, lalu ditembak.
Emoliza tak pernah benar-benar menyelusuri kisah itu. Namun, pernah suatu waktu, rasa marah dan benci tumbuh di hatinya. Mengapa ayahnya harus pergi secepat itu?
Seiring waktu, perasaan itu perlahan memudar. Ia memilih berdamai. Ia memilih bangkit. Ia memilih mengisi hidupnya dengan kerja dan doa.
Sejak kecil, Emoliza sadar bahwa hidupnya berbeda.Ia tak punya tempat bersandar selain ibunya. Tak ada bahu ayah untuk bersandar. Tak ada tangan yang bisa ia tarik saat lelah. Bahkan untuk meminta boneka kecil pun, ia tahu harus menahan diri.
Ibunya sudah cukup lelah. Menjadi orang tua tunggal, membesarkan anak-anak di pelosok desa, hanya dengan bertani sebagai sandaran hidup. Karena itu, Emoliza belajar sejak dini untuk tidak banyak menuntut. Sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara, Emoliza belajar mandiri.
Setamat MAN di Aceh Besar tahun 2019, Emoliza melamar kerja di SMK Negeri 1 Setia Bakti, tak jauh dari kampungnya. Ia diterima sebagai tenaga operator dengan honor yang sederhana. Ia menerimanya tanpa keluhan.
Baginya, itu bukan sekadar pekerjaan. Di sana, ia belajar. Ia bergaul dengan guru-guru, kepala sekolah, dan warga sekolah. Ia melihat dunia pendidikan lebih dekat. Dari sanalah mimpinya tumbuh, ia ingin kuliah.
Tahun 2018, STAI-PTIQ hadir di Aceh Jaya. Emoliza tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Lalu pada tahun 2021 ia mendaftar.
Ia memilih kuliah di daerah sendiri. Agar tetap bisa bekerja. Agar tetap dekat dengan ibunda. Agar tidak terbebani biaya kos dan hidup di kota. Yang terpenting: ia ingin tetap menemani ibunya yang mulai menua.
Honor dari SMK ia kumpulkan. Ia sisihkan sedikit demi sedikit untuk membayar SPP. Namun, itu belum cukup. Ia lalu membuka kios ponsel kecil-kecilan di Desa Pante Kuyun. Awalnya sederhana: jual pulsa, kartu data, dan aksesori. Perlahan, usahanya berkembang. Ia menyediakan casing, perlengkapan HP, hingga layanan tarik tunai bantuan sosial.
Warga datang. Anak-anak sekolah mengambil bantuan pendidikan. Ibu-ibu menarik uang belanja. Dari situlah, Emoliza mengumpulkan receh demi receh. Seribu, dua ribu, lima ribu, hingga terkumpul ratusan ribu, lalu jutaan.
Tak pernah ia mengeluh kepada ibunya soal biaya kuliah. Dari ibunya, ia hanya meminta satu hal, doa yang tak pernah putus.
Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi hari yang tak akan ia lupakan. Emoliza resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Ia berdiri sebagai lulusan terbaik.
Emoliza, S.Pd, gadis yatim yang membiayai kuliahnya sendiri. Gadis yang bahkan rela menunda pernikahan meski telah bertunangan. Ia tak ingin pendidikan terhenti karena urusan lain. Baginya, menyelesaikan kuliah adalah amanah bagi dirinya dan ibundanya.
Ia selalu tampak ceria di kampus. Jarang mengeluh. Jarang mengadu. Tak banyak orang tahu betapa berat langkahnya. Ia pun pandai membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia tahu, sedikit saja lengah, celengannya bocor, maka pendidikannya bisa terhenti.
Karena itu, ia berpegang teguh pada satu prinsip: Pendidikan adalah jalan untuk mengubah hidup. Dan Emoliza telah membuktikannya. Dengan sabar. Dengan kerja keras. Dengan doa. Dengan air mata yang disimpan diam-diam. Ia melangkah bukan dengan kemewahan, melainkan dengan keteguhan. Dari desa udik, ia mengayunkan langkah menuju mimpi besar.