Oleh: Arizul Suwar (Magister Pendidikan, aktif menulis artikel reflektif dan ilmiah-populer tentang pendidikan, literasi, serta nilai-nilai kemanusiaan, Pemred INTIinspira.com)
Coba bayangkan hidup sendirian di sebuah pulau kosong. Tidak ada siapa-siapa selain dirimu. Di hari pertama mungkin terasa bebas. Kamu bisa melakukan apa saja tanpa ada yang melarang. Tapi cepat atau lambat kamu akan kesulitan. Kamu harus mencari makanan sendiri, membangun tempat tinggal sendiri, bahkan ketika sakit tidak ada yang menolong. Dari sini kita bisa melihat bahwa manusia sebenarnya tidak bisa hidup sendiri.
Kita selalu membutuhkan orang lain. Kita butuh petani untuk menanam padi, sopir untuk mengantar barang, guru untuk mengajar, dokter untuk mengobati, bahkan teman untuk sekadar berbicara. Karena manusia saling membutuhkan, maka manusia hidup bersama dan membentuk yang disebut masyarakat.
Di dalam masyarakat ada aturan-aturan yang mengatur bagaimana kita berhubungan dengan orang lain. Aturan ini ada yang tertulis, seperti undang-undang dan peraturan kampus. Tetapi banyak juga yang tidak tertulis. Misalnya, kalau kita antre di kantin, kita harus menunggu giliran. Kalau ada orang tua naik bus, biasanya kita memberi tempat duduk. Kalau bertemu teman, kita mengucapkan salam atau senyum. Aturan-aturan yang tidak tertulis ini disebut norma sosial. Norma membuat hidup kita lebih tertib.
Selain aturan, ada juga peran sosial. Setiap orang punya peran tertentu dalam masyarakat. Ayah berperan mencari nafkah, ibu berperan mengurus rumah (meskipun di zaman sekarang peran ini bisa dibagi), guru berperan mengajar, mahasiswa berperan belajar. Bahkan hal lain pun adalah peran seperti penjual nasi goreng berperan memberi kita makanan, satpam berperan menjaga keamanan, dan tukang sampah berperan menjaga kebersihan. Kalau masing-masing menjalankan perannya, kehidupan bersama bisa berjalan lancar.
Namun, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Ada orang yang tidak menjalankan perannya dengan baik. Misalnya, pejabat yang seharusnya melayani rakyat malah korupsi. Atau mahasiswa yang seharusnya belajar malah melakukan hal-hal yang bukan perannya. Ketika peran tidak dijalankan, muncullah masalah. Masalah seperti ini bisa memicu konflik sosial, yaitu pertentangan antara apa yang seharusnya terjadi dengan kenyataan yang terjadi.
Contoh konflik sosial sederhana bisa kita lihat di kampus. Misalnya, aturan kampus mewajibkan mahasiswa hadir 80% dalam perkuliahan. Tapi ada mahasiswa yang jarang masuk kelas, kemudian protes ketika nilainya jelek. Atau dalam organisasi mahasiswa, ada pengurus yang tidak aktif, padahal dia sudah berjanji menjalankan tugas. Dari sini terlihat bahwa yang disebut konflik itu bukan terpatas pada perang atau kerusuhan besar, tetapi juga bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan sosial ini bisa cepat, bisa juga lambat. Contoh perubahan cepat adalah penggunaan teknologi. Dulu orang berkirim surat butuh berminggu-minggu, sekarang cukup beberapa detik dengan WhatsApp. Contoh perubahan lambat adalah perubahan budaya. Misalnya, dulu orang menikah muda dianggap wajar, sekarang banyak yang menunda menikah untuk menyelesaikan pendidikan dulu.
Nah, semua contoh ini sebenarnya adalah hal-hal yang dipelajari dalam ilmu sosial. Jadi, belajar ilmu sosial bukanlah menghafal teori yang rumit, melainkan mencoba memahami bagaimana manusia hidup bersama, mengapa ada aturan, mengapa ada peran, mengapa terjadi konflik, dan bagaimana masyarakat berubah.
Dengan pemahaman itu, kita bisa lebih bijak menghadapi kenyataan hidup. Kita tidak hanya bisa mengeluh, tetapi juga mengerti kenapa masalah muncul dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan dalam Masyarakat
Perubahan adalah sesuatu yang pasti dalam kehidupan masyarakat. Tidak ada masyarakat yang diam, semuanya bergerak dan berkembang seiring waktu. Pertanyaannya, apa yang membuat masyarakat berubah? Mari kita coba pahami dengan melihat faktor-faktor yang sering menjadi pemicunya.
1. Teknologi yang Mengubah Cara Hidup
Teknologi adalah motor utama perubahan masyarakat. Dulu, orang berkirim kabar lewat surat dan harus menunggu berminggu-minggu. Kini, hanya butuh hitungan detik dengan WhatsApp atau media sosial. Dulu belanja hanya bisa di pasar tradisional, sekarang cukup membuka aplikasi di ponsel. Kehadiran teknologi digital bahkan mengubah pola kerja: banyak pekerjaan yang dulu membutuhkan tatap muka kini bisa dilakukan dari rumah. Inilah bukti bahwa perkembangan teknologi tidak hanya mempermudah, tapi juga menggeser pola hidup masyarakat.
2. Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
Semakin tinggi pendidikan suatu masyarakat, semakin terbuka peluang untuk berubah. Pendidikan melahirkan kesadaran baru. Misalnya, meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan membuat orang lebih peduli pada pola makan, olahraga, dan kebersihan lingkungan. Anak muda yang mendapat akses pendidikan tinggi juga biasanya membawa gagasan baru ke tengah masyarakat, dari cara berorganisasi, cara bekerja, hingga cara berpikir tentang masa depan.
3. Perubahan Ekonomi
Ekonomi adalah faktor yang sangat menentukan arah perubahan. Masyarakat desa yang dulu bertumpu pada pertanian kini banyak yang beralih ke sektor industri atau perdagangan. Di kota, muncul fenomena baru: bisnis online dan ekonomi digital. Perubahan ekonomi tidak hanya mengubah mata pencaharian, tetapi juga gaya hidup. Dulu orang menabung untuk membeli sawah, kini banyak yang menabung untuk membeli gadget atau kendaraan.
4. Politik dan Kebijakan Pemerintah
Kebijakan politik juga sangat memengaruhi kehidupan sosial. Misalnya, pembangunan jalan tol dan transportasi massal membuat mobilitas masyarakat semakin mudah. Program bantuan sosial pemerintah bisa mengubah pola konsumsi masyarakat. Bahkan, pergantian kepemimpinan sering kali membawa arah baru dalam pembangunan yang berimbas langsung ke kehidupan masyarakat sehari-hari.
5. Agama dan Nilai Sosial-Budaya
Agama dan budaya menjadi pengarah moral dan etika dalam masyarakat. Nilai agama bisa memperlambat perubahan jika dianggap bertentangan dengan keyakinan, tetapi juga bisa mempercepat perubahan jika mendorong perbaikan. Contohnya, gerakan zakat dan wakaf produktif dalam Islam mendorong perubahan sosial-ekonomi masyarakat. Demikian juga budaya: dulu banyak orang tua menikahkan anak di usia muda karena dianggap wajar, kini banyak orang menunda pernikahan demi pendidikan yang lebih baik.
6. Globalisasi dan Interaksi Antarbangsa
Dunia sekarang terasa seperti tanpa batas. Globalisasi membawa perubahan besar dalam gaya hidup. Anak muda Indonesia bisa mengidolakan musik K-pop dari Korea, meniru gaya berpakaian artis Hollywood, atau menyukai makanan Jepang dan Korea. Media sosial juga membuat ide-ide dari luar negeri mudah sekali masuk. Semua ini mengubah kebiasaan dan selera masyarakat kita, baik dalam hal hiburan, konsumsi, maupun cara berpikir.
7. Lingkungan Alam dan Bencana
Alam juga punya peran dalam mengubah masyarakat. Bencana seperti gempa bumi, tsunami, atau banjir bisa membuat masyarakat pindah tempat tinggal, mengubah mata pencaharian, bahkan melahirkan solidaritas baru. Contohnya, setelah tsunami Aceh 2004, masyarakat tidak hanya membangun kembali rumah dan jalan, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian sosial.
8. Jumlah dan Komposisi Penduduk
Pertumbuhan penduduk juga memengaruhi perubahan sosial. Indonesia saat ini menghadapi bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia muda yang sangat besar. Hal ini melahirkan budaya digital dan ekonomi kreatif karena generasi muda lebih melek teknologi. Di sisi lain, urbanisasi—perpindahan penduduk dari desa ke kota—juga membawa perubahan besar, baik di desa yang ditinggalkan maupun di kota yang semakin padat.
9. Kepemimpinan dan Gerakan Sosial
Kadang perubahan datang dari orang-orang tertentu atau gerakan bersama. Misalnya, tokoh masyarakat yang visioner bisa menginspirasi warganya untuk membangun desa lebih baik. Gerakan mahasiswa yang menuntut keadilan sosial juga bisa mendorong lahirnya kebijakan baru. Kepemimpinan yang baik adalah katalis penting dalam mempercepat perubahan positif.
Penutup
Semua faktor di atas saling berhubungan. Teknologi bisa mendorong ekonomi, pendidikan bisa memengaruhi budaya, bencana bisa memunculkan gerakan sosial baru. Intinya, masyarakat akan terus berubah, baik karena dorongan dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Sebagai mahasiswa PMI, memahami faktor-faktor perubahan ini sangat penting. Sebab, ketika nanti terjun mendampingi masyarakat, kalian tidak bisa sekadar membawa teori. Kalian harus peka melihat apa yang sedang menggerakkan masyarakat, apa yang menahan perubahan, dan bagaimana nilai-nilai Islam bisa menjadi landasan dalam menghadapi perubahan itu.